PhonePe, platform pembayaran digital dominan di India, menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) tanpa batas waktu karena meningkatnya ketegangan geopolitik dan volatilitas yang diakibatkannya di pasar keuangan global. Langkah ini dilakukan setelah perusahaan telah mengajukan pembaruan dokumen IPO, dengan target listing pada tahun 2024 nanti.
Faktor Geopolitik dan Kondisi Pasar
Keputusan untuk menghentikan sementara IPO terkait langsung dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang telah mendorong kenaikan harga minyak dan memicu mundurnya investor secara luas dari pasar ekuitas di seluruh dunia. Indeks saham India, termasuk Nifty 50 dan BSE Sensex, telah mengalami penurunan yang signifikan (sekitar 9%) sejak akhir Februari. Penurunan pasar yang meluas ini menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pencatatan saham baru, karena investor menjadi menghindari risiko.
Kekhawatiran Penilaian dan Sentimen Investor
Meskipun PhonePe berpendapat bahwa penundaan ini semata-mata karena kondisi pasar, diskusi di antara para bankir investasi menunjukkan potensi revisi penilaian perusahaan ke bawah dari perkiraan sebelumnya sebesar $12 miliar menjadi sekitar $9 miliar. Perusahaan, yang didukung oleh Walmart, awalnya mengharapkan kapitalisasi pasar sebesar $15 miliar, dan berpotensi mengumpulkan hingga $1,5 miliar melalui IPO. Iklim saat ini membuat pencapaian penilaian seperti itu semakin kecil kemungkinannya.
Implikasinya bagi Investor dan Pemangku Kepentingan
Penundaan IPO berdampak pada beberapa pemangku kepentingan utama, termasuk investor awal seperti Tiger Global dan Microsoft, yang bersiap untuk keluar dari saham mereka. Walmart, pemegang saham mayoritas, juga berencana melepas sebagian sahamnya (hingga 9%) sambil tetap mempertahankan kendali. Penundaan ini berarti pintu keluar tersebut kini tertahan, menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Pertumbuhan dan Ekspansi PhonePe
Didirikan pada tahun 2015 dan kemudian diakuisisi oleh Flipkart, PhonePe dengan cepat menjadi platform pembayaran digital terbesar di India, melampaui Google Pay dalam volume transaksi. Pada bulan Februari 2024, perusahaan memproses lebih dari 9,3 miliar transaksi, dengan total nilai sekitar $141,9 miliar. PhonePe telah berkembang melampaui pembayaran hingga ke layanan keuangan seperti pialang saham dan investasi reksa dana, serta toko aplikasi Android miliknya sendiri, menantang dominasi Google Play Store.
Kinerja Keuangan dan Prospek Masa Depan
Meskipun mengalami pertumbuhan, kerugian PhonePe semakin besar, meningkat dari $130,4 juta pada tahun sebelumnya menjadi $156,4 juta dalam enam bulan menjelang September 2023. Hal ini disebabkan oleh investasi berkelanjutan dalam perluasan layanan. Pendapatan operasi perusahaan naik 22% menjadi $424,4 juta pada periode yang sama.
Penundaan IPO PhonePe menggarisbawahi bagaimana ketidakstabilan global dapat mengganggu usaha teknologi yang paling menjanjikan sekalipun. Situasi ini menyoroti lemahnya keseimbangan antara rencana ekspansi dan realitas pasar eksternal, khususnya bagi perusahaan yang mencari modal besar melalui penawaran umum.
