Para Profesional Media Sosial Menghadapi Kelelahan, Semakin Mengandalkan AI sebagai Pedang Bermata Dua

15

Para profesional media sosial mengalami kelelahan yang meluas karena beban kerja yang tidak berkelanjutan, dan banyak yang beralih ke kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi potensial sekaligus faktor penyebab masalah tersebut. Survei terbaru yang dilakukan oleh Metricool mengungkapkan bahwa 75% pekerja media sosial melaporkan bahwa mereka mengelola terlalu banyak tanggung jawab secara bersamaan, sehingga menyebabkan kelelahan mental yang signifikan: hampir 70% mengalami gejala kelelahan atau hampir kelelahan. Hal ini menyoroti masalah mendasar dalam industri ini — menuntut kreativitas real-time, manajemen krisis, dan ketersediaan konstan dari tim kecil atau bahkan individu.

Bangkitnya AI di Bidang yang Menuntut

Alat AI kini semakin populer di kalangan pengelola media sosial yang kelelahan, dengan 72% responden Metriccool menggunakan AI atau otomatisasi untuk mengelola beban kerja. Pergeseran ini bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat pesatnya perkembangan media sosial modern, di mana para profesional diharapkan terus-menerus beralih antara merek, corak, dan tujuan. Seperti yang dicatat oleh Jordan Grubbs, pendiri Influence Media Marketing, peralihan konteks yang terus-menerus ini menyebabkan beban kognitif yang parah. Meskipun AI dapat mengotomatiskan tugas yang berulang dan mengurangi gesekan, AI tidak menghilangkan tuntutan inti pekerjaan.

Masalahnya adalah integrasi AI tidak serta merta membuat media sosial lebih mudah; hal ini sering kali meningkatkan ekspektasi lebih lanjut. Para eksekutif mendorong optimalisasi AI, sementara karyawan takut akan perpindahan pekerjaan, seperti PHK di Amazon. Sementara itu, membanjirnya konten yang dihasilkan oleh AI (dijuluki “slop”) membuat pekerjaan yang berkualitas semakin sulit untuk menonjol.

Elemen Manusia Tetap Penting

Meskipun AI semakin meningkat, kreativitas dan penilaian manusia tetap penting. Pakar seperti Lia Haberman menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan pemikiran strategis atau arahan kreatif. Asumsi bahwa pembuatan ide dan pengoptimalan dapat sepenuhnya diotomatisasi adalah menyesatkan.

Meningkatnya penggunaan AI dalam pemasaran, bahkan oleh merek-merek besar seperti McDonald’s dan Gucci, telah menuai kritik karena merendahkan keaslian. Para profesional media sosial memahami bahwa meskipun AI dapat membantu, AI bukanlah pengganti pengalaman dan wawasan strategis.

Pada akhirnya, AI kini menjadi bagian pekerjaan yang tidak dapat dihindari; namun, alih-alih meringankan beban kerja, hal ini justru meningkatkan standar yang diharapkan. Tekanan yang tiada henti untuk memproduksi lebih banyak dengan sumber daya yang sama berarti bahwa kelelahan masih menjadi ancaman yang besar.

Ekspektasi industri yang tidak berkelanjutan, ditambah dengan meningkatnya tuntutan integrasi AI, menunjukkan bahwa sistem yang ada saat ini sudah rusak. Pekerja media sosial memerlukan dukungan yang realistis, bukan hanya perbaikan teknologi.